rangkuman perencanaan pembelajaran

RANGKUMAN

Oleh :

Nama :

NIM   :

Riyadi Yahya H. Rohan

ADA 108 051

Langkah-langkah Pengembangan Kurikulum

Secara umum langkah-langkah pengembangan kurikulum itu terdiri atas diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian penglaman belajar, serta pengembangan alat evaluasi.

  1. Analisis dan diaknosis kebutuhan

Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan mempelajari 3 hal, yaitu kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat / dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah (kebijakan pendidikan). Kebutuhan siswa dapat dianalisis melalui aspek perkembangan psikologis siswa, tuntutan masyarakat dan dunia kerja dapat dianalisis dari berbagai kemajuan yang ada di masyarakat dan prediksi-prediksi kemajuan masyarakat di masa yang akan dating, sedangkan harapan pemerintah dapat dianalisis dari kebijakan-kebijakan khususnya kebijakan di bidang pendidikan.

Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menganalisis kebutuhan tersebut setidaknya melalui 3 pendekatan, yaitu survei kebutuhan (dengan melakukan wawancara dengan seluruh lapisan masyarakat tentang apa yang dibutuhkan oleh siswa, masayarakat, dan pemerintah berkaitan dengan kurikulum sebagai suatu program pendidikan, studi kompetensi (analisis kompentensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh suatu lulusan jenis dan jenjang program pendidikan), dan analisis tugas (dengan cara menganalisis setiap jenis tugas yang harus diselesaikan berkaitan dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

  1. Perumusan Tujuan

Tujuan-tujuan dalam kurikulum berhierarki, mulai dari tujuan yang paling umum (kompleks) sampai pada tujuan-tujuan lebih khusus dan operasional. Hierarki tujuan tersebut meliputi Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional Umum dan Tujuan Instruksional Khusus. Benjamin S. Bloom membagi komponen tujuan dalam 3 ranah domain yaitu : Kognitif (penguasaan kemampuan-kemampuan intelektual atau berpikir), Afektif (penguasaan dan pengembangan perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai), dan Psikomotor (penguasaan dan pengembangan ketrampilan-ketrampilan motorik.

  1. Pemilihan dan Pengorganisasian Materi

Materi kurikulum kemudian disusun berdasarkan prosedur-prosedur tertentu yang merupakan salah satu bagian dalam pengembangan kurikulum secara keseluruhan, hal ini berkaitan dengan kegiatan memilih, menilai, dan menentukan jenis bidang studi yang sesuai pada jenis dan jenjang persekolahan, kemudian pokok-pokok dan sub pokok bahasan serta uraian materi secara garis besar, juga termasuk scope (ruang lingkup) dan sequence (urutan)-nya.

M.D Gall (1981; 18-25) mengemukakan 9 tahap dalam pengembangan bahan kurikulum, yaitu identifikasi kebutuhan, merumuskan misi kurikulum, menentukan anggaran biaya, membentuk tim, mendapatkan susunan bahan, menganalisis bahan, menilai bahan, membuat keputusan adopsi, menyebarkan, mempergunakan, dan memonitor penggunaan bahan.

Ada sejumlah criteria yang dapat dipertimbangkan dalam pemilihan materi kurikulum ini, antara lain beriktu ini:

  1. Materi kurikulum dipilih berdasarkan tujuan yang hendak dicapai
  2. Materi kurikulum dipilih karena dianggap berharga sebagai warisan budaya (positif) dari generasi masa lalu
  3. Materi kurikulum dipilih berguna bagi penguasaan suatu disiplin ilmu
  4. Materi kurikulum dipilih karena dianggap bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, untuk bekal di masa kini dan masa yang akan dating.
  5. Materi kurikulum dipilih karena sesuai dengan kebutuhan dan minat anak didik (siswa) dan kebutuhan masyarakat.
  1. Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar

Setelah materi kurikulum dipilih dan diorganisasikan, langkah selanjutnya adalah memilih dan mengorganisasikan pengalaman belajar. Cara pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi metode serta teknik yang disesuaikan dengan tujuan dan sifat materi yang akan diberikan.

  1. Evaluasi Kurikulum

Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk menelaah kembali apakah kegiatan yang telah dilakukan itu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. McNeil (1977;134) mengungkapkan ada 2 hal yang perlu mendapatkan jawaban dari penilaian kurikulum, yaitu (1) apakah kegiatan-kegiatan yang dikembangkan dan diorganisasikan itu dapat memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan yag dicita-citakan dan (2) apakah kurikulum yang telah dikembangkan itu dapat diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya? Setelah diperoleh jawaban atas dua pertanyaan tersebut barulah langkah selanjutnya memutuskan dan menetapkan bahwa kurikulum itu diberlakukan dan dilasanakan.

Penilaian pada dasarnya merupakan suatu proses pembuatan pertimbangan terhadap suatu hal. Screven dalam Nurgiyantoro (1988) mengemukakan bahwa penilaian itu terdiri atas 3 komponen, yaitu pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan.

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

Beberapa prinsip yang umum digunakan dalam pengembangan kurikulum, antara lain prinsip berorientasi pada tujuan, kontinuitas, fleksibilitas, dan integritas.

  1. Prinsip Berorientasi pada Tujuan

Kurikulum sebagai suatu system, memiliki komponen tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Komponen tujuan merupakan fokus bagi komponen-komponen lainnya dalam pengembangan system tersebut. Maka dari itu pengembangan kurikulum harus berorientasi pada tujuan. Prinsip ini menegaskan bahwa tujuan merupakan arah bagi pengembangan komponen-komponen lainnya dalam pengembangan kurikulum, sehingga tujuan kurikulum harus jelas dan dan harus komperhensif meliputi berbagai aspek domain tujuan, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor.

  1. Prinsip Kontinuitas

Prinsip kontinuitas dimaksudkan bahwa perlu kesinambungan, khususnya kesinambungan bahan atau materi kurikulum antar jenis dan jenjang program pendidikan. Materi kurikulum harus memiliki hubungan hierarkis fungsional. Untuk itu, dalam pengembangan materi kurikulum harus memperhatikan minimal dua aspek kesinambungan, yaitu (1) materi kurikulum yang diperlukan pada sekolah (tingkat) yang ada di atasnya harus sudah diberikan pada sekolah (tingkat) yang di bawahnya dan (2) materi yang sudah diajarkan atau diberikan pada sekolah (tingkat) yang ada di bawahnya tidak perlu lagidiberikan pada sekolah (tingkat) yang ada di atasnya. Kontinuitas atau kesinambungan juga perlu memperhatikan antara berbagai bidang studi atau mata pelajaran sehingga perlu diupayakan agar tidak terjadi tumpang tindih materi antara pelajaran yang satu dengan yang lainnya maka ada sebuah solusi yaitu dengan menyusun scope dan sequence setiap mata pelajaran pada tiap mata pelajaran jenis dan jenjang program pendidikan. Scope artinya ruang lingkup, sedangkan Sequence artinya urutan atau sistematika

  1. Prinsip Fleksibilitas

Fleksibilitas sebagai salah satu prinsip pengembangan kurikulum dimaksudkan adanya ruang gerak yang memberikan sedikit kelonggaran dalam melakukan atau mengambil suatu keputusan tentang suatu kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pelaksana kurikulum di lapangan. Implementasi kurikulum pada tataran yang sebenarnya akan terkait degnan keragaman kemampuan sekolah untuk menyediakan tenaga dan fasilitas bagi berlangsungnya suatu kegiatan yang harus dilaksanakan, dan keragaman sumber daya pendidikan secara menyeluruh dan perbedaan demografis, geografis, dan faktor-faktor pendukung pendidikan lainnya. Prinsip fleksibilitas juga terkait dengan adanya kebebasan siswa dalam memilih program studi yang dipilih, fleksibilitas juga perlu diberikan bagi guru dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan pembelajaran asal tidak menyimpang jauh dari apa yang sudah digariskan kurikulum, kebebasan disini meliputi menjabarkan tujuan-tujuan, memilih materi pelajaran yang sesuai, memilih strategi dan metode, dan membuat kriteria-kriteria yang objektif dan rasioinal.

  1. Prinsip Integritas

Integritas yang dimaksud disini adalah keterpaduan, artinya pengembangan kurikulum harus dilakukan dengan menggunakan prinsip keterpaduan. Prinsip ini menekankan bawa kurikulum harus dirancang untuk mampu membentuk manusia yang utuh, pribadi yang integrated, mampu selaras dengan lingkungan hidup sekitarnya, mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya.

Keterampilan atau kecakapan hidup (life skills) dapat dipilah menjadi 5 kategori yaitu:

  1. Keterampilan mengenal diri sendiri (self awareness) atau keterampilan personal (personal skill).
  2. Keterampilan berpikir rasional (thinking skill).
  3. Keterampilan social (social skill)
  4. Keterampilan akademik (academic skill).
  5. Keterampilan vokasional (vocational skill).

Tujuan Pembelajaran Umum

  1. Hakikat Tujuan Pembelajaran Umum

Bloom (1977) membagi tujuan pembelajaran menjadi tiga kawasan  menurut jenis kemampuan yang tercantum di dalamnya. Kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi termasuk dalam jenjang kemampuan Kognitif. Kemampuan meniru melakukan suatu gerak, memanipulasi gerak, merangkaikan berbagai gerakan, melakukan gerakan dengan tepat dan wajar merupakan bagian dari kawasan Psikomotor. Tujuan yang berintikan kemampuan bersikap disebut tujuan dalam kawasan Afektif. Tujuan ini meliputi penerimaan (receiving), pemberian respon (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization), dan karakteristik (characterization).

Tujuan pembelajaran dalam kawasan manapun harus dapat dirumuskan dalam kalimat dengan kata kerja yang operasional. Dengan kata lain, suatu TPU harus dapat diukur (measurement) dan perubahan tingkah laku yang terjadi setelah pembelajaran harus dapat diamati (observable). Kalimat siswa akan dapat menjelaskan dan menguraikan sesuatu lebih tepat digunakan daripada siswa dapat mengerti atau mengetahui sesuatu.

  1. Jenis-jenis Tujuan Pembelajaran dan Perumusannya

1)      Kawasan Kognitif

Kawasan kognitif merliputi tujuan pendidikan yang berkenaan dengan ingatan atau pengenalan terhadap pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual dan keterampilan berpikir.

Dalam bentuk gambar taksonomi tujuan pembelajaran untuk kawasan kognitif menurut Bloom tampak sebagai berikut.

Secara singkat setiap jenjang taksonomi pendidikan dalam kawasan kognitif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Aspek Pengetahuan, meliputi perilaku-perilaku (behaviors) yang menekankan pada kemampuan mengingat (remembering), seperti mengingat ide dan fenomena atau peristiwa. Mengingat istilah dan fakta, mengingat rumus, mengingat isi peraturan perundangan, dan definisi.
  2. Aspek Pemahaman, meliputi perilaku menerjemahkan, menafsirkan, menyimpulkan atau mengekstrapolasi (memperhitungkan) konsep dengan menggunakan kata-kata atau simbol-simbol lain yang dipilihnya sendiri
  3. Aspek Penerapan, meliputi penggunaan konsep atau ide, prinsip atau teori, dan prosedur atau metode yang telah dipahami siswa ke dalam praktik memecahkan masalah atau melakukan suatu pekerjaan.
  4. Aspek Analisis, meliputi perilaku menjabarkan atau menguraikan (breakdown) konsep menjadi bagian-bagian yang lebih terperinci dan menjelaskan keterkaitan atau hubungan antar bagian-bagian tersebut.
  5. Aspek Sintesis, berkenaan dengan kemampuan menyatukan bagian-bagian  sesuatu secara terintegrasi menjadi bentuk tertentu yang semula belum ada.
  6. Aspek Evaluasi, berarti suatu kemampuan membuat penilaian (judgement) tentang nilai (value) untuk maksud tertentu.

2)      Kawasan Afektif

Kawasan afektif, meliputi tujuan pendidikan yang berkenaan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesusaian diri. Kawasan ini dibagi 5 jenjang yaitu penerimaan (receiving), pemberian respon (responding), pemberian nilai atau penghargaan (valuing), pengorganisasian (organization) dan karakterisasi (characterization).

3)      Kawasan Psikomotor

Kawasan psikomotor merupakan kawasan yang ke-3 yang berkenaan dengan otot, ketrampilan motorik atau gerak yang membutuhkan koordinasi otot (neuromuscular coordination). Elizabeth Jane Simpson (1966) dan Anita J. Harrow (1977) membagi kawasan psikomotor menjadi 6 tingkat, yaitu gerak refleks, gerak fundamental dasar, gerak terampil, dan komunikasi wajar. Dave (1967) mengklasifikasikan ke dalam 5 tahapan dalam pembelajaran keterampilan yang meliputi aspek peniruan, penggunaan, ketepatan, perangkaian, dan naturalisasi.

Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus

  1. Rumusan TPK dengan Format ABCD

TPK harus benar-benar mengukur perilaku yang terdapat didalamnya. Unsur-unsur itu dikenal dengan rumusan ABCD, yang berasal dari 4 kata sebagai berikut:

A = Audience

B = Behavior

C = Condition

D = Degree

  1. Prinsip-prinsip Merumuskan TPK

1)      Perumusan TPK harus mengandung satu pengertian atau tidak mungkin ditafsirkan kedalam pengertian yang lain.

2)      Perumusan TPK harus berorientasi pada hasil belajar dan bukan proses belajar

Hakikat Perumusan Tujuan Pembelajaran Khusus

  1. Pengertian Tujuan Pembelajaran Khusus

Tujuan pembelajaran khusus merupakan terjemahan dari kata bahasa inggris, yaitu spesifik instructional objective. Dalam literature terdapat pula kata objective atau enabling objective yang berarti tujuan pembelajaran khusus (TPK), untuk membedakannya dari kata general instructional operasinal yang menunjukan jenjang taksonomi tujuan pembelajaran dalam kawasan psokomotor.

Ruang Lingkup Evaluasi Hasil Belajar

  1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program telah berhasil dan efisien atau tidak, dalam evaluasi makna terkandung di dalamnya adalah berupa skor yang diperoleh siswa, kemudian mengkajinya dan menjadikan hasil kajian sebagai suatu kesimpulan apakah memuaskan atau tidak, lulus atau tidak. Pengertian evaluasi meliputi pengertian tes dan pengukuran. Pengukran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi berupa data kuantitatif. Salah satu alat ukurnya adalah tes dan hasilnya dinamakan skor (hasil pengkuran).

  1. Makna Evaluasi

Evaluasi mempunyai makna bagi berbagai pihak. Evaluasi hasil belajar siswa bermakna bagi semua komponen dalam proses pembelajaran terutama siswa, guru, pembimbing sekola, dan orang tua siswa.

  1. Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Tujuan utama dari melakukan evaluasi dalam proses pembelajaran adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan pembelajaran olehsiswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut itu sendiri merupakan salah satu fungsi evaluasi, yang antara lain berupa: mendiagnosis kesulitan belajar siswa, dan menentukan kelulusan siswa.

  1. Teknik dan Alat Evaluasi

Ada beberapa teknik dan alat evaluasi yang dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh informasi tentang keadaan belajar siswa. Penggunaan teknik dan alat itu harus disesuaikan dengan minat tujuan melakukan evaluasi, waktu yang tersedia, sifat tugas yang dilakukan siswa dan banyaknya materi yang sudah disampaikan. Teknik evaluasi yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan adalah tes, observasi atau pengamatan dan wawancara.

Metode Pembelajaran

  1. Hakikat Metode Pembelajaran

1)      Pengertian dan fungsi Metode Pembelajaran

Metode secara harafiah berarti suatu cara yang teratur atau yang telah dipikirkan secara mendalam untuk mencapai sesuatu. Dengan demikian metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang telah direncanakan oleh guru untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.

2)      Kedudukan Metode dalam mencapai tujuan pembelajaran

Hakikat system adalah adanya integrasi setiap komponen dalam mencapai tujuan dan ada saling ketergantungan antara komponen yang satu dengan komponen lainnya. Demikian juga halnya degnan metode pembelajaran, kedudukannya dalam mencapai tujuan pembelajaran hanyalah merupakan salah satu bagian dari sejumlah komponen pembelajaran.

  1. Pemilihan Metode Pembelajaran

1)      Jenis-jenis Metode Pembelajaran

  1. Metode Ceramah (lecture)
  2. Metode demonstrasi
  3. Metode penampilan
  4. Metode diskusi
  5. Metode studi mandiri

Media Pembelajaran

  1. Pengertian Media Pembelajaran

Media berasal dari kata latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti pengantara. Oleh karena itu, secara harafiah media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan, namun secara umum media diartikan sebagai alat komunikasi yang membawa pesan dari sumber ke penerima.

  1. Tujuan Penggunaan Media Pembelajaran

Apabila kita ingat kejadian di dalam kelas, sesungguhnya yang terjadi adalah peristiwa komunikasi yang berlangsung antara guru dengan para siswanya atau antara siswa dengan siswa. Media pembelajaran digunakan agar pesan pengetahuan yang diberikan oleh guru sebagai seorang komunikator dapat dengan efektif sampai kepada siswa.

  1. Manfaat Media dalam Pembelajaran

Dalam pengertian secara harafiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan, dengan demikian dapat kita ketahui bahwa media bermanfaat untuk memberikan pesan dengan baik diterima oleh siswa dengan berbagai media atau perantara yang ada.

Sumber Belajar

  1. Pengertian Sumber Belajar

Kata sumber sangat erat kaitannya dengan asal yang mendukung terjadinya suatu peristiwa dalam peristiwa belajar, misalnya sumber belajar tidak lain adalah suatu yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran.

  1. Jenis-jenis Sumber Belajar

1)      Sistem Pelayanan

  1. Sistem Pelayanan Individual
  2. Sistem Pelayanan Klasikal

2)      Bahan Pembelajaran

Bahan pembelajaran disini tidak terbatas pada bahan yang dirancang berdasarkan kurikulum tertentu. Sifatnya bias independent (berdiri sendiri) membicarakan topik tertentu meski dalam penggunaannya tetap mengacu pada kebutuhan kurikulum yang ada.

Bentuk Bahan dan Kegiatan Pembelajaran

  1. Bentuk Kegiatan Pembelajaran
  1. Guru sebagai fasilitator dan siswa belajar sendiri.
  2. Guru sebagai penyaji materi pelajaran yang dipilih dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pengembangan Rencana Pembelajaran

Pengembangan merupakan suatu system, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Komponen tersebut adalah tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Dari keempat komponen pembelajaran itu, tujuan dijadikan focus utama pengembangan artinya ketiga komponen lainnya harus dikembangkan dengan mengacu pada komponen tujuan.

Hakikat Pengembangan Rencana Pembelajaran

  1. Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran
  1. Hakikat Kurikulum

Hakikatnya kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (UUSPM 1989).

  1. Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat timbale balik.

  1. Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran

Kurikulum sebagai program sedangkan pembelajaran sebagai kurikulum aktualnya atau dengan kata lain pembelajaran sebagai impelmentasi dari rencana yang di tetapkan.

  1. Pengertian Rencana Pembelajaran

Rencana pembelajaran merupakan kegiatan merumuskan tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai oleh suatu kegiatan pembelajaran, cara apa yang digunakan, materi atau bahan apa yang disampaikan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran tersebut. Bentuk rencana pembelajaran dijabarkan dari hal yang paling umum kepada yang paling khusus dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Bentuk rencana pembelajaran ini meliputi bentuk satuan pembelajaran untk masing-masing pokok bahasan dalam tiap-tiap caturwulan atau semester yang dikembangkan dari silabus atau GBPP tiap bidang studi atau mata pelajaran.

Fungsi rencana pemelajaran adalah agar guru lebih siap dalam melaksanakan proses pembelajaran. Komponen-komponen yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan pembelajaran adalah tujuan, materi/bahan, strategi/metode dan media, dan evaluasi.

Prosedur Pengembangan Rencana Pembelajaran

  1. Langkah-langkah Umum Pengembangan Rencana Pembelajaran
  1. Perumusan Tujuan

Terdiri dari:

  1. Tujuan pendidikan nasional
  2. Tujuan institusional/lembaga
  3. Tujuan klikuler
  4. Tujuan pembelajaran (instruksional)

Dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Tujuan pembelajaran umum (TPU)
  2. Tujuan pembelajaran khusus (TPK)

Tentang riyadiyahya

a big guy with a big dream have a ministry with teaching in elemantery level, i'm so like smile ^^ b'cos with smile can make me have fun, no
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s